Ingin ana kongsikan email yang dikirim oleh seorang sahabat pena yang jauhnya beribu batu dari sini. Sangat ana terkesan dengan kisah ini. Wajarnya kita pergunakan untuk tujuan dakwah kita yang utama.
Namun kesedaran adalah perlu dari setiap manusia yang beragama Islam, kerana tanggungjawab ini bukan sahaja di pundak pihak berkuasa, tetapi bermula pada diri sendiri.
Dengan izin, empunya tulisan ana mengalihkan bahasa catatan ustaz itu ke Bahasa Melayu agar lebih difahami oleh pambaca di ruangan blog ana ini, insya`allah.
Moga mendapat manfaat dari kisah nyata ini.
'Dia tertarik dengan Islam hanya kerana melihat seorang teman Muslimnya,... "She dressed differently, and completely behave so humbly and respectful". (Dia berpakaian sopan, dan betul-betul bertingkah laku sangat hormat dan rendah hati)'
Suasana di Islamic Forum for non Muslims masih agak sepi. Selain masih banyak lagi yang bercuti akhir tahun juga kerana beberapa kegiatan Islam lainnya di kota New York, sehingga ada beberapa murid berhalangan hadir. Tetapi Margaret, seorang Ibu muda warga Amerika, dan anaknya Nyssa, berumur 11 tahun telah tiba lengkap dengan buku catatannya.
Ibu dan anak ini memang telah mengikuti kelas the Islamic Forum sejak enam minggu yang lalu. Terus terang, saya tidak pernah bertanya ke mereka, apakah Muslim atau tidak, sebab sejak pertama ke kelas mereka menampilkan sikap ramah, bersahabat dan seolah telah mengetahui banyak tentang agama ini. Jadi, sangkaan saya selama ini adalah bahawa Ibu ini mengantarkan anaknya belajar dasar-dasar agama.
Saya masih ingat sekitar tiga minggu sebelumnya, ketika Nyssa sambil tersenyum malu menanyakan,
"When should I start pray?"
Saya ketika itu sambil becanda menjawab "You should have asked this before!".
Nyssa adalah seorang anak pendiam tetapi murah senyum. Terkadang sering memperbaiki kerudung di kepalanya jika nampak rambutnya dari arah depan.
"But I mean, when I have to do it", tanyanya lagi.
Setelah itu saya baru mengerti bahawa barangkali Nyssa bertanyakan apakah awal seorang Muslim harus melakukan kewajiban-kewajiban agamanya? Maka saya pun menjelaskan bahawa semua Muslim jika telah mencapai umur baligh (puber) di dirinya terhinggap kewajiban-kewajiban agama. Perintah sudah harus dilaksanakan, larangan sudah harus ditinggalkan.
Ibunya yang mencelah pula, "How should you know that a person has reached the age of puberty?".
Saya kemudian menjelaskan bahawa ada perbezaan fitrah pada lelaki dan perempuan. Lelaki biasanya didatangi dengan apa yang lazim disebut "wet dream" (mimpi basah), sementara pada perempuan ketika mengalami haid pertamanya.
Nyssa nampak serius mendengarkan setiap kata dari penjelasan itu, bahkan mencatat setiap perkara penting dari diskusi di kelas pagi itu. Walaupun begitu, Nyssa nampak sangat pendiam, tetapi ibunya sedikit terbuka dan banyak bertanya.
"I don't know, why she is so quite here, but at home she talks too much", kata ibunya suatu hari. Nyssa, sebagaimana biasanya hanya membalas dengan seukir senyuman.
Sambil menunggu Solat Zuhur Sabtu lalu, Nyssa dan ibunya (Margaret), duduk di kelas dan membuka buku catatannya.
Saya yang kebetulan baru saja menikahkan seorang pasangan Pakistan dan gadis Amerika dari Ohio, lalu berlalu di kelas sekadar menyahut sapaan .
"I want to tell you some thing" Ibu Margaret memulai.
"What's that?", tanyaku singkat.
Sambil melihat anak yang di sisinya dengan mata berkaca-kaca dia mengatakan "I want to convert today" (saya ingin masuk Islam)
Hampir tidak percaya kerana saya kira selama ini, Ibu dan anak ini adalah Muslim. Saya kemudian bertanya, "Wait, are you non Muslims?
Ibu Margaret tertawa terbahak melihat anaknya lagi, kemudian membalas tanyaan saya dengan bertanya "Why? Do you think we are Muslims?".
"Yes", jawabku.
Saya kemudian bertanya sejak bila dia mula belajar Islam dan bagaimana latar belakang mereka sehingg datang ke kelas the Islamic Forum itu. Margaret bercerita panjang, yang intinya sejak hampir setahun ini memang dia belajar serius Islam. Dan itu dia lakukan sejak bercerai dengan suaminya yang, menurutnya, peminum dan kaki judi.
Dia kemudian mencari ketenangan, terkadang dengan minum dan menurutnya lagi hampir terjatuh ke jurang membunuh diri dengan memakan ubat-ubatan. Hingga suatu ketika dia bertemu dengan seorang teman di pejabatnya yang menurutnya, seorang warga Hispanic. Namun menurut Ibu Margaret, dia ini berbeza dengan warga Hispanic lainnya.
"She dressed differently, and completely behave so humbly and respectful". (Dia berpakaian sopan, dan betul-betul bertingkah laku sangat hormat dan rendah hati)
Dia inilah yang kemudian mengenalkan Islam sejak sekitar setahun lalu. Sejak itu, dia tidak pernah minum lagi dan lebih serius belajar dan mendekati Islam beserta anaknya yang ketika itu baru berumur 10 tahun.
Sekitar tiga minggu lalu Margaret kebetulan mengambil cuti menjelang Thanksgiving dan menyempatkan diri mencari masjid atau Islamic Center. Di sinilah dia bermula datang ke masjid dan menanyakan pada orang-orang di masjid itu di manakah tempat jika dia ingin belajar Islam. Diapun diarahkan untuk datang hari Sabtu dan bersama dengan kelas the Islamic Forum for non Muslims.
Hampir 30 minit Margaret berbincang-bincang dengan saya mengenai latar belakang dirinya mengenai Islam. Akhrinya tanpa ada waktu lagi menjelaskan hal-hal yang biasanya saya jelaskan kepada seseorang yang akan masuk Islam, saya minta Margaret untuk segera mengambil wudhu. Rupanya dia sudah melakukannya bersama puteri kecilnya itu.
Maka, Margaret dan Nyssa saya ajak menuju ruang solat. Di hadapan sekitar 200an jamaah Margaret dengan khusyuk saya pimpin bersama cahaya matanya itu mengikrarkan "Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah,” diringi laungan takbir para jamaah. “Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar..”
Saya kemudian meminta kepada jamaah wanita untuk memberikan ucapan selamat, diikuti dengan solat Zuhur berjamaah.
Setelah Solat, Nyssa dan ibunya masuk kembali ke kelas. Saya baru bertanya perihal nama Nyssa yang pertinya nama anak-anak Islam. Margaret mengatakan bahawa bekas suaminya adalah orang Greek (Yunani), dan Nyssa bererti yang pertama. Saya katakan, saya ingin nama Nyssa ditambah A di depannya. Maka, sejak Sabtu itu, Nyssa rasmi menjadi Anyssa (Anisah).
Kebetulan Ahad lalu adalah pengajian bulanan di Masjid Al-Hikmah. Saya mengajak Margaret ke Masjid Al-hikmah untuk mendapatkan pengalaman bersama Muslim dari Indonesia, tetapi juga ingin memberikan hadiah tudung kepada Nyssa. Nyssa selama ini serius dengan tudungnya yang hanya sepotong kain biasa. Terfikir tudung buatan Indonesia, selain lebih cantik, juga boleh terus dipakai.
Rupanya Margaret sudah ada janjian dengan teman Hispanic itu dan akhirnya menunda kunjunganna ke masjid Al-Hikmah.
"Margaret, Anyssa, selamat dan semoga selalu dijaga di jalan Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Doa kami menyertai!"
Ustaz Syamsi Ali
Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York